Cerpen Nova
Bilik Doa Cetak E-mail
Oleh ademin   
Jumat, 08 Oktober 2010 06:46

ORANG-orang lalu-lalang sesukanya. Hilir-mudik nyaris sulit ditandai. Beragam pikiran yang menyesakkan benak masing-masing dipastikan menentukan ke arah mana orang itu akan bertuju. Saat-saat matahari persis tegak lurus di atas kepala, suasana terik pun terasa berdenyar sampai di dalam kawasan mal yang selalu ramai dikunjungi. Saat-saat seperti itulah puluhan orang mulai menyesaki sebuah ruang jauh di sudut yang sangat terpencil. Mungkin tepatnya hanya sebuah bilik kecil berukuran 2x2 meter yang sudah terbiasa disebut musala.

 
Yang Menangis di Balik Pintu Cetak E-mail
Oleh ademin   
Rabu, 22 September 2010 06:12

Dilan merapatkan jaketnya. Angin malam mendesau dan berloncatan masuk ke dalam rumah, meniup bulu kuduknya dan mendinginkan tapak kakinya. Entah mengapa angin malam ini teramat asing. Ia mendongakkan kepalanya ke langit. Berserak bintang-bintang yang tak seberapa.

 
Perempuan yang Menunggu Takdir Cetak E-mail
Oleh ademin   
Rabu, 22 September 2010 06:05

Ia berjalan dengan kedukaan yang sangat. Perempuan muda lembut itu. Tami, Sri Utami nama lengkapnya. Matanya nanar, memerah basah. Ucapan lancip sang ibu terngiang menggelayut batin.

“Nduk, laki-laki itu pemimpin dalam keluarga. Patuhi suamimu!”

 
Ramadan di Masjid Jeruk Cetak E-mail
Oleh ademin   
Rabu, 22 September 2010 06:10

1RAMADAN esok disambut dengan suka-cita di perumahan ini. Sejak kemarin tampak dijemur sajadah, mukena, sarung dan baju koko. Diangin-angin pula peci putih, hitam dan warna-warni. Keluarga-keluarga muda bahkan memajang di muka rumah banner ukuran 150 cm x 50 cm yang isinya serupa: ucapan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa”, dengan foto keluarga.

 
Banuadji Tiada Lagi Cetak E-mail
Oleh ademin   
Rabu, 22 September 2010 06:04

Turun dari Hyundai di dekat pantai, mereka berdua melangkah menyongsong angin laut yang menggoyang pepucuk cemara di kanan-kiri jalan. Di kejauhan nampak ombak melingkar-lingkar mengarak riak berbuih putih-putih ke arah pasir pesisir. Keduanya tak mengira, taman rekreasi yang dulu itu kini tiada lagi karena seluruh bangunan lama telah menjelma gedung pabrik tepung, entah milik siapa.