ANAK NELAYAN MATI DI LAUT Cetak E-mail
Oleh Agus Fahri Husein   
Selasa, 11 Agustus 2009 04:20

Lima orang itu, satu di antaranya anak saya, dua lagi kemenakan saya, semuanya mati. Hari pertama ketemu satu, hari kedua kosong, hari ketiga ketemu satu matanya sudah hilang, hari keempat ketemu satu rambutnya hilang, ketemu satu lagi seminggu kemudian, dua puluh kilometer dari tempat kejadian, mukanya sudah tidak ada. Semuanya sudah bengkak, mengerikan dan mengenaskan. Yang kelima sudah dua bulan tidak ketemu. Hilang di laut untuk selama-lamanya. Dan yang kelima ini anak saya. Bagaimana kejadiannya saya tidak tahu persis. Saya tidak berada di tempat kejadian. Satu diantara tiga yang selamat yang sempat tergulung ombak menceritakan:
Kami ke pantai dua puluh orang. Sudah banyak yang melarang kami mandi. Ada papan pengumuman tapi sudah roboh. Sebenarnya kami sudah mau pulang. Kami sudah di luar pagar pantai. Tapi almarhum yang hilang (maksudnya anak saya) masuk lagi ke pantai. Katanya ingin melihat matahari tenggelam. Ia turun ke air. Oe, airnya dingin, teriaknya. Lalu empat orang lagi ikut turun.
Kita tidak jadi pulang. Saya lihat mereka berlari-larian di pasir, semakin lama semakin ke tengah, dan bahwa di tengah airnya dangkal, tidak sampai selutut, saya juga heran. Lalu saya lihat almarhum yang hilang berteriak-teriak minta tolong sambil melambai-lambaikan tangannya. Semula saya kira main-main karena air tidak sampai selututnya. Lalu begitu yang lain tampak serius berusaha menariknya, saya bersama dua orang lagi turun ke laut untuk membantu. Benar, di tengah air tidak sampai selutut. Namun, almarhum tidak bisa menggerakkan kakinya, seperti ada yang mencengkeramnya. Saya tarik  bertiga. Almarhum sudah panik sekali. Kami tidak kuat. Saya ajak bersama-sama untuk menyebut. Almarhum sudah tidak bisa berkata apa-apa selain berteriak-teriak panik minta tolong. Saya mencoba menarik sendirian. Sama sekali tidak bergeser. Saya coba upaya lain. Saya tendang betisnya sekuat tenaga. Saya yang terpental. Almarhum tidak bergeser sedikit pun.
Saat itulah saya lihat ombak besar bergulung, bukan dari arah laut seperti umumnya, tapi dari arah samping. Baru sekali itu saya melihat ombak yang demikian. Saya merasakan air menjadi lebih dingin dan tiba-tiba pasir yang saya injak hilang. Saya terperosok sampai sebatas dagu. Lalu ombak besar itu menggulung semuanya. Saya terangkat di atasnya.
Untuk sementara, saya tidak melihat almarhum dan yang lainnya. Saya lihat dua orang terlempar ke pantai. Saya berada di puncak ombak yang bergerak sejajar dengan garis panai. Lama sekali rasanya ombak ini tidak pecah-pecah. Saya mencoba melawan tapi sia-sia. Pikiran saya hanyalah bagaimana saya tidak sampai terjatuh di pangkal ombak. Kalau ombak pecah dan saya ada di pangkalnya, saya akan terpukul air berton-ton beratnya. Jadi, saya mengikuti saja ayunan puncak ombak dan berusaha agar tetap mengapung.
Saya dengar jeritan-jeritan di pantai menyebut nama saya. Lalu ombak berbalik ke arah datangnya dan tiba-tiba pecah. Saya seperti terjun bebas ke dasar laut. Kepala saya pening, banyak terminum air laut. Dasar laut tampak terang benderang. Saya menemukan almarhum, wajahnya sudah membiru. Saya tarik bajunya dan saya dorong ke atas. Kemudian saya berusaha ke permukaan, terasa tengkuk saya ditampar keras sekali. Tampaknya ombak besar itu datang lagi.
Sampai di permukaan, saya merasakan lagi tamparan keras itu dua kali. Saya terjungkal. Muka saya nyungsep ke air. Saya mendengar nama saya dipanggil-panggil. Lari. Lari! Lalu ada yang menarik tangan saya. Saya tidak tahu lagi apa yang terjadi kemudian.
Teman-temannya yang lain melengkapi cerita ini. Begitu ditarik ke tepi, anak itu pingsan. Ia dijungkirkan beramai-ramai. Air tumpah lewat mulutnya. Ia sadar sudah di rumah sakit.
Kami mendirikan tenda di tepi pantai. Tidak ada yang bisa diperbuat selain menunggu. Tim SAR sudah puluhan kali menyelam dan menyisir panta. Dan sekarang sudah ditarik seluruhnya. Dihubungi lagi kalau ada yang mengapung, mayat anak-anak itu. Angin berubah-ubah arah. Jadi kami menunggu kemurahan laut mengembalikan anak-anak itu ke bibir pantai. Satu persatu mereka muncul sudah tidak bernyawa lagi. Di sela-sela penguburan mereka, beredar cerita-cerita simpang siur yang tidak bisa diuji kebenarannya. Dari cerita anak yang selamat, orang mengembangkan kesimpulan-kesimpulannya sendiri.
Lima orang semua jejaka. Jelas bahwa ini pekerjaan Nyai Rara Kidul, kata yang percaya. Air tidak sampai lutut tapi tidak bisa bergerak, pasti Nyai memegangi kakinya. Nyai menyukai jejaka-jejaka. Dan yang memercayai hal ini banyak. Lalu diputuskan untuk mengirim paranormal ke Sukabumi untuk bersemedi di kamar hotel … milik Nyanyi di Pelabuhan Ratu. Sepulangnya dari sana, orang ini segera dikerumuni.
Katanya, Nyai menghendaki yang tenggelam. Nyai bersedia melepaskan  mereka  bersamaan, tapi Nyai minta satu lagi. Saya tanya sama Nyai untuk upacara apa. Tidak bisakah diganti kerbau atau sapi? Nyai tidak menjawab. Nyai mengulangi lagi permintaannya, lalu menghilang.
Saya tidak begitu percaya cerita ini. Orang-orang yang percaya minta paranormal ini untuk bersemedi di bibir pantai untuk membujuk Nyai. Setelah selesai semedi: Nyai menghendaki satu lagi, lainnya akan dilepas serentak. Coba sekali lagi. Agak lama ia bersedekap dan memejamkan mata ketika tiba-tiba tersungkur dari duduknya. Orang-orang membantunya duduk kembali. Wajahnya pucat dan berkeringat, napasnya putus-putus.
Apa kata Nyai? Orang-orang tak sabar. Sama. Coba lagi, coba lagi! Paranormal itu menggeleng, “Nyai menunjukkan pada saya bagaimana anak-anak itu bergulat melawan ombak. Saya merasakan semuanya, jeritan-jeritan memilukan itu. Saya tidak kuat. Nyai berjanji melepaskan mereka satu-satu, kapan, terserah Nyai. Maaf, saya tidak kuat. Dan paranormal itu jatuh pingsan.
Mereka yang percaya membenarkan ucapan paranormal ini. Sebab dari yang lima itu, satu mati di darat yang ketemu pada hari kejadian. Nyai menghendaki lima, baru mendapat empat. Siapa mau menuruti keinginan  Nyai? Tak seorang pun. Jadi, semua orang hanya bisa menunggu bergantian di tenda darurat di tepi pantai.
Soal Nyai ini banyak yang menganggap omong kosong, tapi orang tidak berani terang-terangan mengatakan. Sebab, siapa tahu benar. Saya sendiri tidak begitu percaya, nanti akan saya jelaskan.
Orang yang ragu soal Nyai mengatakan bahwa pasir yang tiba-tiba hilang itu sebenarnya disangga oleh gurita raksasa. Kalau dia bergerak cepat, pasir di atasnya akan hilang. Kaki anak itu pasti berada dalam lilitan belalainya yang banyak itu.
“Saya belum pernah melihat. Tapi, ada kawan saya yang pernah melihat. Binatang itu sungguh mengerikan, seperti penjelmaan setan,” katanya.
Banyak nelayan yang memercayai adanya gurita itu. Namun, saya tidak. Itu sama halnya dengan Nyai. Puluhan tahun saya melaut belum pernah saya melihat girita raksasa. Kalau cucut (sebutan nelayan untuk hiu) sering. Saya mengenal laut dengan baik. Dan karena itu, setelah dua bulan anak saya tidak muncul ke permukaan, saya tidak lagi berharap.
Pernah ada orang tenggelam, ketemu dua minggu kemudian, tubuhnya tidak utuh lagi, sudah menjadi sisa makanan ikan. Jadi lebih baik anak saya tidak usah muncul, terutama agar istri saya tidak melihat pemandangan yang mengenaskan itu.
Duduk di pantai sendirian, saya sungguh menyesal tak habis-habisnya. Andai saja anak itu sempat belajar dari saya mengenai perilaku laut, tidak akan ada kejadian seperti itu.  Awalnya memang saya anggap dia tidak perlu belajar melaut. Saya berharap, kelak dia tidak menjadi nelayan seperti saya. Jadi, tidak pernah dia saya ajak melaut, cara paling cepat memelajari perilaku laut. Saya suruh dia serius sekolah teknik dan kursus Inggris, supaya kelak kehidupannya lebih baik dibanding nelayan.
Ikan sudah tidak banyak lagi di laut, kecuali kalau kita mau ke tengah. Dengan perahu kecil, sama saja bunuh diri. Sejak pabrik-pabrik kimia didirikan sepanjang pantai, hampir tidak ada lagi jalan ke laut. Ikan pergi menghindari limbah. Jadi, saya pikir, sayalah yang terakhir dari garis keturunan keluarga besar saya yang jadi nelayan. Anak saya jangan. Itu sebabnya, dia tidak perlu belajar apa-apa dari saya, mengenai perilaku laut tentu saja.
Bahwa kejadiannya demikian, saya sungguh-sungguh tidak habis menyesal. Andai saja dia sempat belajat dari saya bahwa air laut yang tiba-tiba menjadi dingin adalah sangat berbahaya. Orang bisa terikat di pasir, meskipun hanya sebatas mata kaki. Orang harus terus menerus bergerak agar tidak terikat pasir. Atau lebih baik naik ke daratan.
Dan ombak besar dari samping sejajar garis pantai, nelayan menyebutnya arum, mengeruk apa saja yang dlewatinya. Arum tak bisa dilawan.  Orang bisa mati lemas lebih dulu sebelum ombak itu pergi. Kalau dia, anak saya maksud saya, sempat belajar dari saya, dia mungkin tidak akan mati dengan cara seperti itu. Satu-satunya cara menghadapi arum adalah jangan melawannya.  Berusahalah tetap di atasnya dan ikuti saja ke mana arahnya. Kita tidak bakalan menang melawannya. Begitu kita tenggelam, kita akan tertimbun berkubik-kubik pasir.
Andai saja dia sempat belajar dari saya tentang perlikau laut, anak itu maksud saya …
Cilegon – Anyer, 2001

 

Tambah Komentar Anda

Your name:
Komentar: