WETON Cetak E-mail
Oleh Dianing Widya Yudhistira   
Jumat, 31 Juli 2009 06:48

Bertentangan dengan Ibu, tak pernah terlintas sebelumnya. Arum berselisih paham soal lelaki yang akan menikahinya. Ibu tidak menyetujui kehadiran Firdaus dalam hidupnya hanya karena hari lahir Firdaus tidak cocok dengan weton Arum. Padahal mereka telah menjalin hubungan selama enam tahun. Waktu yang cukup panjang untuk mengenal satu sama lain. Bagi Arum, Firdaus lelaki tepat untuknya. Lelaki  pekerja keras, sabar, dan yang terpenting Firdaus mampu menghargai Arum sebagai perempuan.

Bagi Arum usia di atas dua puluh tujuh tahun adalah usia rentan. Siapa pun ia, perempuan pasti membutuhkan pendamping. Merindukan sosok suami sekaligus kehadiran anak-anak. Sayang, Ibu  mempermasalahkan soal weton. Menurut pendapat Ibu, weton sangat mempengaruhi kebahagiaan dalam berumah tangga. Lalu Ibu menerangkan pada Arum tentang hitung-hitungan weton berdasarkan kalender jawa.

Ada istilah bumi kepethak, artinya bekerja sekeras apa pun sepasang suami istri tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan. Hasil yang mereka dapatkan selalu berakhir dengan nihil. Ada juga istilah satrio wiring, pasangan ini selama hidupnya akan didera penderitaan. Lalu istilah-istilah lain dalam bahasa Jawa yang tidak Arum pahami. Biarpun lahir dan besar di lingkungan Jawa, Arum buta tentang weton.

Ada istilah yang lebih mengerikan lagi, yakni gotong mayit. Bila calon pasangan ini tetap menikah dapat dipastikan ada salah satu keluarga atau salah satu dari pasangan itu meninggal dunia. Tragisnya hitungan ini jatuh pada weton Arum dan Firdaus.

“Kamu ingin Ibu meninggal setelah kalian menikah?”

Terdengar ketus. Lalu Ibu menceritakan, lima kakak Arum menikah berdasar hitungan weton. “Kamu lihat sendiri, kehidupan mereka bahagia.”

Arum menelan ludah. Memang kelima kakaknya menikah berdasar hitungan weton, tapi mereka menikah dengan orang yang mereka cintai. “Bukankah ini berarti hitungan weton yang jatuh pada hitungan bagus hanyalah kebetulan saja?” ujar Arum.

Ibu bertambah marah. Ia berdiri dari tempat duduknya. Berkata pada Arum dengan keras. “Pokoknya Ibu tidak setuju, titik. Cari lelaki lain!”

Dunia seperti runtuh dalam tubuh Arum. Apakah mudah bagi perempuan untuk menambatkan cinta kepada sembarang lelaki. Memutus hubungan yang telah berjalan enam tahun lalu berusaha mencintai lelaki lain hanya demi weton yang pas. Ini soal hati, tak semudah membalikkan telapak tangan.

Keputusan Arum dengan Firdaus masih sama. Mereka tetap menikah. Sekali lagi Arum berusaha meyakinkan Ibu bahwa weton bukanlah penentu bahagia atau tidaknya sebuah pernikahan. Arum ingin Ibu mau menerima kesungguhan Firdaus, dan melupakan soal weton. Bagaimanapun Arum ingin menikah dengan restu Ibu. Arum gagal. Ibu masih tetap pada pendiriannya.
“I
bu mana yang sampai hati melihat anaknya menderita. Weton yang tidak pas akan membuatmu sengsara.”

Arum kecewa. Keyakinan Ibu pada weton telah membuat Ibu lupa bahwa setiap orang tak pernah memilih hari apa ketika ia akan dilahirkan.
Akhirnya mereka menikah tanpa kehadiran Ibu. Bila orang lain menikah dengan kebahagiaan penuh, tidak dengan Arum. Kebahagiaan Arum berkurang tanpa kehadiran dan restu Ibu. Tak ada bulan madu usai Arum dan Firdaus menikah. Masing-masing dari mereka hanya mengambil cuti tiga hari.

Selama tiga bulan menikah, Arum tak menemukan gejala-gejala kehamilan dalam dirinya. Ia sangat enjoy dalam bekerja. Tak ada pusing-pusing atau mual. Kondisi fisiknya baik-baik saja selama tiga bulan itu. Kalau toh Arum ke dokter, itu karena suhu badannya tak mau turun selama tiga hari. Tanpa Arum duga, ia hamil. Mendengar kehamilannya, roman muka Firdaus cerah. Tapi, ada perubahan Firdaus yang membuat Arum tak habis pikir. Firdaus berharap agar Arum berhenti bekerja. Selama ini Firdaus selalu mendukungnya.

“Kamu harus cukup istirahat.”

“Kehamilan bukan penghalang bagi perempuan untuk bekerja.”

“Aku setuju, tapi aku tak sampai hati melihatmu kelelahan. Jaga anak kita.”
“A
ku akan menjaganya sebaik mungkin, tapi jangan suruh aku berhenti bekerja.” Firdaus mengangguk berulangkali seraya mengucap kata maaf.

Perubahan lain, Firdaus jadi tambah banyak bicara bahkan cenderung cerewet. Ia melarang Arum berjalan terlalu cepat menuju kantor,  melarang mengangkat barang sedikit berat. Bahkan baru jam tujuh malam sudah menyuruh Arum untuk tidur. Alasannya Arum harus cukup istirahat. Padahal sangat sulit mengubah jam tidur.

Perut Arum mulai membuncit. Hari itu usia kehamilannya menginjak ke angka tujuh. Arum masih masuk kerja sebagaimana biasanya. Namun, ada yang lain dengan hari itu. Konsentrasinya tak sepenuhnya pada pekerjaan kantor. Biarpun sibuk di depan komputer pikiran Arum tertuju pada Firdaus. Arum merasakan kekhawatiran yang tak jelas. Arum berusaha untuk tenang. Dari memejamkan mata hingga berdoa.

Sia-sia. Arum tetap saja didera kekhawatiran. Jantung Arum berpacu cepat, ketika telepon di sampingnya berdering. Mengabarkan bila saat ini Firdaus sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Firdaus pingsan di meja kerjanya.
Arum terkejut. Kenapa harus dibawa ke rumah sakit Darmais? Padahal limaratus meter dari kantor Firdaus berdiri rumah sakit Fatmawati? Selama ini Firdaus tak pernah mengeluhkan tentang jantungnya. Usai menerima telepon, Arum segera menuju ke sana.

Dalam ruang kamar serba putih, pelan-pelan Arum dekati Firdaus yang tergeletak tanpa daya. Arum tak kuasa melihatnya. Wajah Firdaus yang tampan memutih dengan mata terpejam. Helaan napasnya sangat pelan. Ketika Arum sentuh tangannya, ia masih diam. Dalam diri Arum bergejolak rasa takut. Arum ingin Firdaus segera membuka mata, melihat kehadirannya.

“Nyonya Firdaus?” Seseorang memanggil Arum dengan nada tanya.

“Ya.”

“Bisa ikut ke ruangan saya, sekarang.”

Arum mengiyakan. Tubuh Arum lunglai. Ia tak percaya selama ini lelaki sekuat Firdaus mengidap penyakit cukup serius. Ada yang tidak beres dengan jantungnya.

Hari ke dua menjenguk Firdaus, Arum lihat wajah Firdaus lebih cerah daripada kemarin. Ia yang terlebih dulu menyapa Arum dengan senyum. Arum duduk di sampingnya sembari membetulkan letak selimut.

“Bagaimana? Sudah baikan?”

Firdaus mengangguk pelan. Arum raih telapak tangan Firdaus, mengangkatnya tepat di depan dagu.

“Mau berjanji untukku, mulai sekarang tidak akan merokok lagi.”

Firdaus tertawa kecil, kemudian berkata pada Arum bahwa Arum tidak tahu nikmatnya orang merokok. Firdaus seolah tidak tahu betapa Arum cemas. Pelan-pelan Arum lepaskan tangannya. Arum diam.

“Hey jangan cemberut begitu. Kamu meski percaya kematian itu di tangan Tuhan, bukan pada jantungku.”

Seperti ada yang menampar pipinya mendengar Firdaus bicara soal kematian.

“Kamu takut aku mati muda?”

Ya Tuhan, Arum bertambah cemas.

Sampai di rumah, kalimat Firdaus dan tingkahnya yang ganjil mengganggu pikiran Arum. Arum tidak ingin apa yang diucapkannya terjadi. Arum gelisah dan setiap menit kegelisahannya terus bertambah. Arum susah memejamkan mata, meskipun malam mulai larut. Arum putuskan untuk kembali ke rumah sakit.

Begitu sampai di sana, beberapa perawat tampak keluar dari kamar Firdaus dengan wajah tegang dan terburu-buru. Ketika sampai dalam kamar Firdaus, dua orang dokter baru saja menghela napas lega.

“Selamat malam.”

Kedua dokter itu menoleh, membalas salam Arum. Salah  satu dari mereka mendekati Arum.

“Untung Ibu datang, kami keluar dulu.”

Dokter itu menepuk bahu kanan Arum dua kali dengan sangat pelan, kemudian berlalu. Sementara dokter satunya lagi hanya tersenyum.

“Sekarang tinggal Arum dan Firdaus di ruangan yang  tampak semakin pucat.  Firdaus memanggilnya sangat lirih. Arum mendekat.

“Maafkan aku.”

Arum merasakan atmosfir lain di ruangan itu. Begitu hening dan tenang.
Duduklah.  Aku ingin bicara.”

Arum menurut saja apa kata-katanya.

“Seminggu lalu aku depositokan uang lima puluh juta atas namamu.”

“Lima puluh juta, uang siapa!?”

“Tabunganku selama bertahun-tahun. Murni hasil keringatku.”

Firdaus tampak memaksa diri untuk bicara. Matanya menatap ke perut Arum. Merabanya pelan-pelan. Terdengar helaan napas Arum yang berat. Ia  mulai merasakan takut.

“Titip anakku, rawatlah seperti aku mencintaimu.”

Arum hanya bisa mengangguk. Tak kuasa berkata-kata.

“Deposito itu bisa kau gunakan untuk pendidikannya. Aku ingin anakku secerdas kamu.”

Arum mulai terisak.

“Aku belum siap...”

Firdaus menutup mulut Arum dengan kedua jarinya.

“Selama ini aku hanya mengenal Arum yang tegar, bukan Arum yang cengeng. Kamu pasti bisa.” Suara Firdaus mengecil.

“Rawat anakku, seperti cintaku padamu.”

Suara Firdaus kian mengecil, lalu benar-benar hilang.

Sesungguhnya Arum tak ingin menangis di depan pusara Firdaus yang masih basah. Tapi, dialah lelaki yang Arum cinta dan mampu membuatnya merasa le
bih hidup. Arum taburkan melati terakhir di atas makam Firdaus. Arum berjanji pada Firdaus, akan memberikan yang terbaik buat anak Firdaus yang kini masih dalam kandungannya. Seperti keyakinan Firdaus, Arum pasti bisa.

Arum percaya, kepergian Firdaus bukan karena kesalahan weton mereka. Namun, semata karena rahasia Tuhan. * * *




Blok DJ-7/8 Pondok Petir
Sawangan, Depok 16517

 

 

Tambah Komentar Anda

Your name:
Komentar: